Kamis, 08 September 2011

CARA MUDAH MENGHAFAL AL-QUR’AN

oleh Syeikh Abdul Muhsin Al-Qasim. Beliau adalah Imam dan Khatib di Masjid Nabawi. Semoga Artikel kali ini bermanfaat dan dapat menambah semangat kaum Muslimin untuk dapat menyelesaikan hafalan Al Qur’an yang mulia. Selamat mencoba.


الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد ، وعلى آله وصحبه أجمعين
Berikut adalah metode untuk menghafal Al-Quran yang memiliki keistimewaan berupa kuatnya hafalan dan cepatnya proses penghafalan. Kami akan jelaskan metode ini dengan membawa contoh satu halaman dari surat Al-Jumu’ah:
1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali :
يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali:
وَآَخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali:
ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
5. Bacalah keempat ayat ini dari awal sampai akhir sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut
6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali:
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali:
قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali:
وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ
9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
10. Bacalah ayat kelima sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut
11. Bacalah ayat pertama sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk menguatkan/meng-itqankan hafalan untuk halaman ini
Demikianlah ikuti cara ini dalam menghafal setiap halaman Al-Qur’an. Dan janganlah menghafal lebih dari seperdelapan juz dalam setiap hari agar tidak berat bagi anda untuk menjaganya.

Bagaimana cara menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah?
Janganlah anda menghafal Al-Quran tanpa proses muraja’ah/pengulangan. Hal ini dikarenakan jika anda terus menerus menambah hafalan Al-Quran lembar demi lembar hingga selesai kemudian anda ingin untuk mengulang kembali hafalan anda dari awal maka hal itu akan berat dan anda dapati diri anda telah melupakan hafalan yang lalu. Oleh karena itu, jalan terbaik (untuk menghafal) adalah dengan menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah.
Bagilah Al-Quran menjadi 3 bagian dimana setiap bagian terdiri dari 10 juz. Jika anda menghafal satu halaman setiap hari, maka ulangilah 4 halaman sebelumnya sampai anda menghafal 10 juz. Jika anda telah mencapai 10 juz, maka berhentilah selama sebulan penuh untuk muraja’ah dengan cara mengulang-ngulang 8 halaman dalam setiap harinya.
Setelah sebulan penuh muraja’ah, maka mulailah kembali untuk menambah hafalan yang baru baik satu atau dua halaman setiap harinya tergantung kemampuan serta barengilah dengan muraja’ah sebanyak 8 halaman dalam sehari. Lakukan ini sampai anda menghafal 20 juz. Jika anda telah mencapainya, maka berhentilah dari menambah hafalan baru selama 2 bulan untuk mengulang 20 juz. Pengulangan ini dilakukan dengan mengulang 8 halaman setiap hari.
Setelah 2 bulan, mulailah kembali menambah hafalan setiap hari sebanyak satu sampai dua halaman dengan dibarengi muraja’ah/pengulangan 8 halaman sampai anda menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.
Jika anda telah selesai menghafal seluruh Al-Qur’an, ulangilah 10 juz pertama saja selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz. Kemudian ulangilah 10 juz kedua selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama. Kemudian ulangilah 10 juz terakhir selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

Bagaimana cara memuraja’ah/mengulang Al-Quran seluruhnya jika saya telah menyelesaikan system muraja’ah diatas?
Mulailah dengan memuraja’ah Al-Qur’an setiap hari sebanyak 2 juz. Ulangilah sebanyak 3 kali setiap hari hingga anda menyelesaikan Al-Qur’an setiap 2 minggu sekali. Dengan melakukan metode seperti ini selama satu tahun penuh, maka –insya Allah- anda akan dapat memiliki hafalan yang mutqin/kokoh.

Apa yang harus dilakukan setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dalam satu tahun?
- Setelah setahun mengokohkan hafalan Al-Qur’an dan muraja’ahnya, jadikanlah Al-Qur’an sebagai wirid harian anda sampai akhir hayat sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadikannya sebagai wirid harian. Adalah wirid Rasulullah dengan membagi Al-Qur’an menjadi 7 bagian sehingga setiap 7 hari Al-Qur’an dapat dikhatamkan. Berkata Aus bin Hudzaifah رحمه الله: Aku bertanya pada sahabat-sahabat Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – tentang bagaimana mereka membagi Al-Qur’an (untuk wirid harian). Mereka berkata: 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan dari surat Qaf sampai selesai. (HR. Ahmad). Yaitu maksudnya mereka membagi wirid Al-Quran sebagai berikut:
- Hari pertama: membaca surat “al fatihah” hingga akhir surat “an-nisa”,
- Hari kedua: dari surat “al maidah” hingga akhir surat “at-taubah”,
- Hari ketiga: dari surat “yunus” hingga akhir surat “an-nahl”,
- Hari keempat: dari surat “al isra” hingga akhir surat “al furqan”,
- Hari kelima: dari surat “asy syu’ara” hingga akhir surat “yaasin”,
- Hari keenam: dari surat “ash-shafat” hingga akhir surat “al hujurat”,
- Hari ketujuh: dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-naas”.
Wirid Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – di singkat oleh para ulama dengan perkataan: فمي بشوق (famii bisyauqi). Dimana setiap huruf dari kata ini merupakan surat awal dari kelompok surat yang dibaca setiap hari.

Bagaimana membedakan antara ayat-ayat mutasyaabih/mirip di dalam Al-Qur’an?
Cara yang paling afdhal jika anda mendapati 2 ayat yang mirip adalah dengan membuka mushaf pada setiap ayat yang mirip tersebut, lalu perhatikanlah perbedaan diantara kedua ayat tersebut kemudian berikanlah tanda yang dapat mengingatkan anda akan perbedaan itu. Lalu ketika anda memuraja’ah, perhatikanlah perbedaan yang anda tandai sebelumnya beberapa kali hingga anda mantap menghafal tentang kemiripan dan perbedaan diantara keduanya.

Kaidah-kaidah dan batasan-batasan dalam menghafal Al-Qur’an
o Wajib bagi anda menghafal dengan bantuan seorang ustadz/syeikh untuk membenarkan bacaan anda
o Hafallah 2 halaman setiap hari. Satu halaman setelah Subuh, dan satu halaman lagi sesudah Ashar atau sesudah Maghrib. Dengan cara ini, maka anda akan mampu menghafal Al-Qur’an seluruhnya dengan mutqin/kokoh dalam waktu satu tahun. Adapun jika anda menambah hafalan diatas 2 halaman setiap hari maka hafalan anda akan lemah disebabkan semakin banyaknya ayat yang harus dijaga..
o Hendaklah menghafal dari surat An-Naas sampai Al-Baqarah karena hal tersebut lebih mudah. Namun setelah selesai menghafal seluruh Al-Quran, hendaklah muraja’ah anda dimulai dari surat Al-Baqarah sampai An-Naas
o Hendaklah menghafal dengan menggunakan satu cetakan mushaf karena hal ini dapat menolong anda dalam memantapkan hafalan dan meningkatkan kecepatan dalam mengingat posisi-posisi ayat serta awal dan akhir setiap halaman Al-Qur’an.
o Setiap orang yang menghafal dalam 2 tahun pertama biasanya masih mudah kehilangan hafalannya. Masa ini dinamakan dengan Marhalah Tajmi’ (fase pengumpulan). Janganlah bersedih atas mudahnya hafalan anda hilang atau banyaknya kekeliruan anda. Karena memang fase ini merupakan fase cobaan yang sulit. Dan waspadalah, karena syaithan akan mengambil kesempatan ini untuk menggoda anda agar berhenti dari menghafal Al-Qur’an. Maka janganlah perdulikan rasa was-was syaithan tersebut dan teruskan menghafal karena sesungguhnya itu adalah harta yang sangat berharga yang tidak diberikan pada setiap orang.
Sumber: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=342445 [mirror]
Artikel: www.salafiyunpad.wordpress.com

salah lahan ya?

sudah lama tidak mengurus blog ini..
astaghfirullah..padahal sudah diberi kesempatan...

sekarang
detik2 pulang kantor ini.. ingin mengeluarkan uneg2 dalam hati ini..

(semoga bisa istiqomah dalam menulis kebaikan..amiin)

ttg menanam..
ibaratnya kita telah diamanahi Allah biji/benih yg agus,suci, dan insyaAllah terbaik,
sudah sepatutnya kita menanamkannya di tempat yg baik pula.. di tempat yg halal,atau lahan yang sah, bener2 milik kita, atau paling gak, kita mendapat ijin dari pemilik lahan, bahwa kita boleh menanaminya..

seandainya kita tanam di lahan orang.. lalu
apakah kita berhak menikmati hasilnya?
apakah kita tidak berdosa?
apakah Allah meridhoi tanaman kita?
padahal biji yang diamanatkan itu sangat suci..

astaghfirullah..
aku telah melakukannya yaAllah..
dalam sadar atau tidak..
telah kusebarkan biji suci ini ke lahan2 yg bukan milikku..
ya Allah.. maafkan hamba telah mengkhianati amanah dariMu

terkadang iri dengan teman2, saudari2
yang telah berhasil menanam di lahan yang memang miliknya..
hingga buahnya pun ranum,,enak..nikmat dan menyejukkan mata..

hmm..







smoga bisa diambil hikmahnya..
walaupun ga dijelasin disini..
apa hikmahnya
hhe
bisa diartika banyak hal..
tentang benih ini..



ya Allah sesungguhnya hamba sangat rapuh..
tapi hamba benar2 ingin berusaha meraih cintaMu


hamba mencintaiMu ya Allah
hamba ingin..cinta kepada Mu diatas segalanya dalam hidupku..amiin




Kamis, 23 Juni 2011

bgmana mengukur kualitas diri..

Ada 4 hal setidaknya yang bisa mengukur kualitas diri ini. Yaitu ;

Pertama ; Kualitas kita dapat dikatakan prima jika kita sudah dapat menikmati berkhalwat dengan Allah. Jika belum atau tidak terasa nikmat itu, maka cukuplah itu menjadi nasehat.

Kedua ; Kualitas prima itu memiliki indikasi ketika kita merasa nikmat melakukan muhasabah. Jika masih jarang, sulit dan memanipulasi kesalahan diri, rasanya itu alasan kuat untuk terus menempa diri di sisa waktu.

Ketiga ; Kualitas diri yang prima memiliki alamat adanya kenikmatan ketika dalam sebuah forum kita dapat menerima kritik dgn lapang dada. Forum itu banyak ragamnya. Ada forum maya dan ada forum nyata. Ada forum dengan skala global dan ada forum lokal. Dan sebagainya.

Keempat, terakhir ; Kualitas prima itu bercirikan adanya keikhlasan bekerja bersama masyarakat. Salah satu tanda adanya kualitas prima itu adalah kesabaran menghadapi gangguan orang lain dalam bekerja untuk kebaikan.

Dan tahukah anda mana yang mendasari dan mana yang merupakan fungsi dari yang lain? Hal keempat adalah hal penting dan tanda pertama sampai ketiga adalah fungsi dari hal keempat.

Kawan, tak perlu kita tergopoh-gopoh menunjukkan kualitas diri. Karena kualitas diri itu nyata bagi mereka yang mengerti soal itu. Kita cuma harus berusaha memperbaiki kualitas diri ini dengan cermat dan sabar..

copast dr f*rum solahudin

Ketika da’wah ini sdh meluas, maka antum berhati-hatilah,…

Ust Hilmi Hafidzohulloh berkata +/- :

Ketika da’wah ini sdh meluas, maka antum berhati-hatilah,…

Ikhwan yang terheran balik bertanya kpd beliau : “Kenapa ya Ust? Da’wah yang sudah meluas kenapa malah kita disuruh berhati-hati?”

Karena ketika da’wah ini sudah meluas, pengawasan-pengawasan dari qiyadah sudah mulai berkurang karena kesibukan dan tenaga yang terbatas. Saat itulah dituntut untuk pengawasan dari diri sendiri.
Dan pada saat itu akan terlihat, mana juru da’wah yang kuat dari jama’ah ini. Yang tetap konsisten dalam da’wahnya.
Yang bisa menjaga diri dari bermaksiyat kpd-NYA.Yang bisa tidak kembali kepada masa-masa sebelum berda'wah.
Karena saat itu akan banyak kader-kader yang kumat, yang dulu biasanya perokok, mgkn nanti akan kumat merokok lagi, yang dulu playboy, mgkn nanti akan kembali menjadi playboy, dan lain sebagainya.

Comment : Inilah mgkn yang sedang dirasakan dari jama’ah da'wah saat ini. Tuntutan terhadap kita selaku kader da’wah adalah dengan memperketat pengawasan diri kita dari perkara-perkara yang hanya kita dan Alloh saja yang tahu. Karena pada saat spt itu, ketika kita menganggap orang lain tidak tahu apa yg kita lakukan, maka akan kita ketahui seberapa tangguhnya kita untuk tidak bermaksiyat kepada-NYA. 

Sebenarnya memang lebih nyaman jika dakwah terus dibatasi ruang geraknya hanya pada mereka yang berpendidikan, cerdas, bersemangat dalam beragama, dan lingkungan yang menjunjung obyektifitas. Tapi tidak. Dakwah ini sudah digerakkan sehingga merambah wilayah lain dan meninggalkan zona nyamannya. Hari ini, gerakan dakwah juga ada di lingkungan yang mungkin tidak lebih nyaman dari lingkungannya yang dahulu.

Maka mulailah muncul perbedaan -yang sebenarnya biasa saja- berubah seakan menjadi hal yang luar biasa. Maka muncullah ketegangan yang sebenarnya tak istimewa. Ketegangan yang normal terjadi di setiap fase kemudian berubah menjadi ketegangan yang menghiasi media. Ketegangan biasapun menjadi riuh rendah.

Memang membangun tandhim bukanlah pekerjaan sederhana. Ada banyak hal yang dapat menggagalkannya. Faktanya, beberapa orang yang dahulu bersama-sama di jalan dakwah, sekarang tidak lagi bersama-sama. Ada banyak alasan untuk itu. Ada yang terpisah karena soal harta, ada soal politik, ada soal popularitas, ada yang berpisah karena kepemimpinan, dan ada banyak hal lainnya.
(copast dr For*m Sholah***in) 

Senin, 13 Juni 2011

barublajar_ttg Sahabat Perjuangan

Sahabat Perjuangan



Pertemuan kita kali ini 
Bukan sekedar kawan lama tak jumpa
Tapi kita bertemu ada satu makna 
Kita punya satu perjuangan

Andai ada kasih antara kita 
Kita kembalikan kepada Yang Esa D 
Agar ia suci tulus dan ikhlas 
Semoga Allah memberkati 

Sambutlah tangan sahabat saudaraku 
Bimbinglah ia melangkah bersama 
Satukan hati kita teguhkan ia
Berdiri bersama untuk kebenaran 

Perjuangan itu artinya berkorban 
Berkorban itu artinya terkorban 
Janganlah gentar untuk berjuang 
Demi agama dan bangsa 

Inilah jalan kita 
-tazakka-
subhanallah..entah knapa sy jd melow bgini.. rasanya ga ikhlas ketika harus melepas kepergian saudari saudari ke sluruh pelosok negri.. ya Allah, sungguh ikhlas itu butuh keimanan yg kuat, maka hamba mohonkuatkan iman hamba ya Allah, agar kuat diri ini menatap saudari2 dengan senyuman tanpa ada air mata dan gerimis di hati...

padahal mereka pergi bukan untuk maksiat, seharusnya tidak ada ragu, karena perpisahan itu untuk bertemu kembali.. insyaAllah..insyaAllah..

bagaimana nanti ke depannya ya? bagaimana dia disana, senangkah? apa mereka bahagia? 
begitulah...

tetapi..ikhlas tak ikhlas, apakah akan mengubah keadaan saudari kita? mereka akan tetap pergi meskipun kita tidak ikhlas.. hehe ya iyalah.. 
tapi akan beda hasilnya nanti..ikhlas dan tidak ikhlas...

ya Allah , smoga Engkau senantiasa memberkahi hidup mereka, menunjuki mereka jalan yg benar ..amiin

" Ya Allah, Engkau tahu bahwa hati ini telah berhimpun dalam kecintaan kepada-Mu, telah berjumpa dalam mentaati-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah terjalin dalam membela syariat-Mu. Maka teguhkanlah, Ya Allah, ikatannya; kekalkanlah kasih sayangnya; tunjukilah jalan-jalannya; penuhilah hati itu dengan cahaya-Mu yang tidak pernah sirna; lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman kepada-Mu dan indahnya kepasrahan kepada- Mu; hidupkanlah ia dengan bermakrifah kepada-Mu; dan matikanlah ia diatas kesyahidan di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah, kabulkanlah. Dan curahkanlah sholawat, kesejahteraan dan kedamaian kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, serta kepada keluarga dan para sahabat beliau".

Amiiiin..... 


dan ketika nanti kita bertemu ukhti.. smoga kita dalam keadaan yang lebih baik lagi dari keadaan saat kita berpisah..

amiin ya Rabb

ana ukhibukunna fillah... ^^

Selasa, 31 Mei 2011

barublajar_ttg rejeki (part2)

sambungan dr part1,hehe

marikita lanjutkan..
kalau kita masih tetap memunculkan pertnyaan yg mempertanyakan  "kenapa dia lebih kaya? kenapa dia lebih ganteng? kenapa dia yg bla bla? kenapa? kenapa?"
jawabannya adalah karena mereka semua-yg kita dengki dg rejeki mereka-itu mampu memikul ujian itu..

karena pada dasarnya , kesenangan dan kesulitan, duaduanya merupakan ujian.. janganlah kita salah persepsi dalam meresponnya.
dalam QS. Al Fajr :15-16 "Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan,maka dia berkata:'Tuhanku telah memuliakanku' adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata:'Tuhanku menghinakanku'."



maka kunci utama adalah sabar dan syukur, sering kita dengar ttg ini, sangat bisa bila kita anggap teori saja dan kita lupakan, tapi memang 2 ini kuncinya... 


jawaban dari kenapa kenapa itu, 
ibaratnya, knapa kita ga punya sayap? karena memang kita ga butuh sayap, ga butuh terbang, krn kita bisa terbang tanpa sayap sekalipun, karena kita ga akan kuat memikul tgjawab ketika memiliki sayap..karena dengan tidak memiliki sayap, kita akan lebih baik lagi,


sekarang ganti kata sayap di atas dgn sesuatu yg kau ingini tapi serasa jauuh sekali..^^


intinya.. adalah hikmah dari setiap ujian,.. 
ujian seperti apapun, baik kesenangan yg indah ataupun kesulitan yg pahit.. akan mjd sama2 indah.. tak masalah.. bila dg ujian itu kita bisa dapatkan hikmah..hikmah yg hanya didapat ketika mengalami ujian tersebut, dan yg lebih penting adalah kita makin dekat dgn Allah..


dalam QS alBaqarah :269, “Allah memberikan hikmah kepada orang yang dikehendaki-Nya dan siapa yang diberikan hikmah, maka ia telah diberi kebaikan yang banyak sekali”. 

subhanallah.. ternyata yg terpenting dari smua ini adalah ttg kepahaman atas hikmah dibalik smua kejadian.. dibalik semua ayat2 qauniyah dan ayat2 qauliyah Allah...


sungguh beruntung orang2 yg dapat mengambil hikmah dari silihbergantinya setiap kejadian dimukabumi ini...
Ya Allah berikan hamba kesempatan untuk dapat memahami hikmah..amiin ya Rabb

barublajar_ttg rejeki

siang itu, ada percakapan di sudut kantor yg sepi, "pren,punya duit ga?" boleh,boleh,brapa? "100ribu ada?aye males ni ke atm" wah adanya 20ribu "yaudah deh, makasih pren"

saat sipeminjam pinjam uang, pdhl sebenernya dy ada uang, tp krn ada sesuatu shg ga bisa pake uangnya sendiri, lalu pinjamlah ia pd prennya, yg sebenarnya baik uang dikantong maupun di atm bener2 tinggal 20ribu.. tapi, smua itu harus disyukuri, karena bila dibandingkan dg dua org td, masih byk yg lebih tdk beruntung..harusnya kita bersyukur

karena sebenarnya rezeki itu anugrah dr Allah yg bukan hnya dalam ujud uang, tp ia jg bisa dalam bentuk kesehatan, kebahagiaan, ketentraman..bahkan seseorg yg tdk memiliki harta sekalipun,tetap mendapat anugerah rejeki tsb berupa ketenangan hati, kesehatan dan sgala macam bentuk kasih sayang Allah yg kita tak slalu dpt menyadarinya....harusnya kita bersyukur

sering terlihat oleh diri ini, di pinggir2 jalan, ada pedagang asongan yg kalo dilihat sekilas, kita takkan bisa bayangin kita bakal beli barang disitu, tp kita tau bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki,ArRozaq,yg pasti menjamin rezeki pedagang itu.. ..harusnya kita bisa lebih bersyukur

juga sering kita lihat pemulung, yang takterbayangkan mereka dapat makan darimana, melanjutkan hidupnya bagaimana, bagaimana keluarganya, apakah istrinya bisa belanja, bisa masak hr ini, apakah anak2nya bersekolah, bagaimana masa depan anak2nya, sama sekali tak terbayangkan seperti apa, tapi bila kita yakin, bahwa Allah Maha menjamin hidup hamba2Nya, insyaAllah mereka dapat melanjutkan hidupnya, mereka bisa tetap menatap matahari pagi dengan semangat berapi2,memulung lagi..subhanallah..justru mereka lah orang2 pilihan yang kuat dan mampu memikul ujian dari Allah utk hidup berkekurangan, tak pernah terbayangkan apakah diri ini dapat menaggung ujian itu bila ujian itu menimpa kita..harusnya kita bisa lebih bersyukur..

jadi, marilah kita terusmenerus merenungi sgala nikmat, anugrah, yang tlah Allah berikan.. takkan mampu kita menghitung nikmat dariNya, bila dgn ini kita menyibukkan diri dan hati kita, maka takkan ada lagi keluhan keluhan yang muncul, karena semuanya tlah dijamin oleh Allah Yang Maha Menajmin hidup hambaNya..semuanya..semuanya tlah dijamin.. shg takkan ada lagi kata "kenapa" yg terlontar dari mulut kita.. "kenapa dia lebih kaya? kenapa dia lebih cantik? kenapa dia nikah duluan?" :)
karena semua tlah diatur dengan indah oleh Allah Yang Maha Mengatur sgala keperluan makhlukNya, ..

marikita snantiasa mensyukuri..mensyukuri..mensyukuri..
Laa insyakartum laa azidannakum.

(bersambung)

1/6/2011@bonjeruk

Kamis, 26 Mei 2011

barublajar_ttg sandal

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri , supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang .Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Ar Rum ayat 21)
Mungkin saya belum bisa membahas tema ini dengan banyak dalil atau dasarnya. Tema yang akan saya angkat adalah tema yang sangat sensitif bagi semua orang-terutama bagi kaum hawa-. Saya hanya ingin menyampaikan uneg2 dalam hati, tentang hal ini, baiklah, ini adalah tentang teman hidup, teman sejati atau partner yang akan membersamai kita di dunia dan akhirat kelak, insyaAllah..
Bicara tentang jodoh, saya kepikiran sandal jepit atau sandal apapun itu. Yang oleh pabriknya pasti dibuat sepasang, kiri dan kanan. Yang kiri tidak bisa dipakai tanpa yang kanan, begitupun sebaliknya, dan sangat ajaib sandal itu, saya katakan ajaib, karena saya kagum dengan sandal...
Berikut saya paparkan keajaiban2 sandal yang saya kagumi itu..cekidot
1.       Diciptakan berpasang2an
Sandal selau diciptakan berpasangan, kiri dan kanan, tidak mungkin ada pabrik yang sengaja buat kiri semua tanpa ada sebelah kanannya, dan kalau seseorang memang sengaja memakai sandal kiri semua, pasti tidak nyaman , ga percaya? Silakan mencoba.. - -‘

2.       Adanya sebagai pelengkap dan pendukung pasagannya
Sama dg penjelasan awal td, memang sandal kiri sangat mendukung keberadaan sandal kanan, mereka berdua bersama, saling melengkapi, dan saling mendukung. Tak pernah kita temui mereka bertengkar, si kiri mau ke tempat A si kanan mau ke tempat B, tidak pernah mereka saling mengkhianati, hidup mereka begitu harmonis, indah dan penuh sakinah...

3.       Dirinya adalah cerminan pasangannya
Anda ingin lihat seperti apa bentuk sandal saya yang kiri? Tinggal lihat saja bagaiman bentuk yang kanan, mereka adalah hasil cerminan satu sama lain, sifat mereka sama,karena terbuat dari bahan yang sama, sama-sama terbuat dari kulit atau sama-sama terbuat dari karet, mungkin ini yang dimaksud sekufu ya..^^

4.       Selalu setia
Tak pernah kanan bosan dengan keberadaan si kiri, tak pernah terbayangkan dalam benak si kiri akan selingkuh dengan sandal lain, seperti apa bentuk si kanan, kiri akan slalu setia mendampingi, menemani, mendukung dan membersamai gerak pasangan terkasihnya.. sungguh mengagumkan..
Kira2 beginilah suara hati sang sandal.. begitu setianya..^^
Aku tak akan berhenti
Menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati
Ku kan berdoa pada Ilahi
Tuk satukan kami di surga nanti
(Wali – Doaku Untukmu Sayang)

Tapi, dibalik kelebihan-kelebihan itu, harap maklum, kita semua tau, sandal memang tak perlu mencari pasangannya, ia diciptakan bersama dengan pasangannya dan memang slalu berdua sejak awal, dia tak perlu kebingungan akan seperti apa pasangannya kelak, dia pun tak perlu mengalami masa-masa penuh kebimbangan, tak perlulah iya istikhoroh, tak perlulah iya bangun pada tiap-tiap malam tuk memantapkan hati, tak perlu pula iya memohon sandal lain tuk jadi pasangannya, juga ia tak perlu bingung antara menerima atau menolak sandal yang datang padanya, karena memang sejak awal mereka bersama, dipakai bersama, menuju tujuan bersama, dan rusak serta dibuang bersama,
Subhanallah, di sinilah letak keistimewaan manusia, yang harus berusaha untuk mempertahankan hidup, termasuk berusaha mengusahakan jodohnya, berikhtiar, semaksimal mungkin, hingga ketika bersama, ketika bertemu nanti, terasalah jejak-jejak perjuangannya, sehingga makin indahlah perjalanan mengarungi hidupnya..  
dan bagi saudari2ku yang sedang dalam masa penantian , tetap bersemangat.. bukan berarti ketika doa-doa kita tidak dikabulkan berarti Allah sedang jauh, belum tentu,
Sebenarnya dibalik ini semua, ada rahasia dibalik rahasia, kita sedang diuji agar sabar, ikhlas dan ridho terhadap keputusan Allah, apakah kita benar-benar yakin dengan janji Allah bahwa
“… wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik juga diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yang baik….” (QS.24:26)"



Harus selalu bersemangat dalam menjemput kebaikan… 

di dalam sepi ia selalu hadir
di dalam sendiri ia selalu menyindir
kadang meronta bersama air mata
seolah tak kuasa menahan duka

biarlah semua mengalir
berikanlah kepada ikhtiar dan sabar
untuk mengejar...

sabarlah menunggu
janji ALLAH kan pasti
hadir tuk datang
menjemput hatimu

sabarlah menanti
usahlah ragu
kekasihkan datang sesuai
dengan iman di hati

bila di dunia ia tiada
moga di syurga ia telah menanti
bila di dunia ia tiada
moga di syurga ia telah menunggu
@jkt 27mei2011

Rabu, 25 Mei 2011

Hikmah Pada Pemberian Dan Penolakan

 


  

ADAKALANYA KAMU MENERIMA PEMBERIAN YANG PADA HAKIKATNYA ADALAH PENOLAKAN DAN ADA KALANYA KAMU DITOLAK TETAPI PADA HAKIKATNYA KAMU DIBERI.
 
JIKA DIBUKA KEPADA KAMU PINTU KEFAHAMAN TENTANG PENOLAKAN, NISCAYA BERUBAH PENOLAKAN MENJADI PEMBERIAN.
        Sesuatu yang begitu kuat menghalangi perjalanan kerohanian seseorang murid adalah kehendak diri sendiri. dia berkehendak bhwa sesuatu yang menurutnya akan membawa kebaikan kepada dirinya. Kehendak atau hajat keperluannya itu mungkin berkaitan tentang dunia, akhirat atau hubungan dengan Allah s.w.t. 
       Jika hajatnya tercapai dia merasakan yang dia menerima kurniaan Allah s.w.t. Jika hajatnya tidak diperkenankan dia akan merasakan dia menerima penolakan Allah s.w.t dan dijauhkan. 
       Orang yang berada pada peringkat ini selalu mengaitkan terkabulnya permintaan atau doa dengan kemuliaan di sisi Allah s.w.t. Jika Allah s.w.t mengabulkan permintaannya dia merasakan itu adalah tanda dia dekat dengan-Nya. Jika permintaannya ditolak dia merasakan itu tandanya dia dijauhkan. Anggapan begini sebenarnya tidak tepat. Tidak semua penerimaan doa menunjukkan pendekatan dan tidak semua penolakan menunjukkan dijauhkan
        Bagi orang yang masih dalam perjalanan dia tidak seharusnya membesarkan hajat keperluannya. Dia perlu menghancurkan nafsu dan keinginan dirinya supaya dia dapat masuk ke dalam suasana berserah diri kepada Allah s.w.t. Kehendak dan hajat menghalangnya dari berserah diri kepada Allah s.w.t. Pemberian yang sesuai dengan hajat dan permintaannya menambahkan kekuatan halangan tersebut. Keadaan ini menambahkan lagi hijab antaranya dengan Allah s.w.t. Dalam segi ini, pemberian yang diterimanya walaupun mempunyai manfaat tetapi sebenarnya merupakan kerugian kerana tertutup jalan menuju Allah s.w.t. Jadi, pemberian itu merupakan penolakan yang tidak disadarinya.
  
      Orang yang hajatnya ditolak (belum terkabul) akan mengalami keadaan yang berbeda daripada orang yang hajatnya dikabulkan. Orang yang mempunyai keinginan terhadap sesuatu mempunyai hubungan hati dengan apa yang diingini itu. Hatinya cenderung atau kasih kepadanya. Jika keinginannya sangat kuat dan tidak dapat dikawalnya, dia akan sanggup berkorban apa saja untuk mendapatkan apa yang diingininya itu. Jika dia bermohon kepada Tuhan maka dia akan meminta dengan bersungguh-sungguh. Harapannya bulat tertuju kepada Allah s.w.t. Sekiranya dia mampu tentu dipaksanya Allah s.w.t agar memberi apa yang dia hajati itu. 
       Apa akan terjadi sekiranya Allah s.w.t menolak permintaannya dan membiarkan harapannya itu musnah? Dia akan menghadapi perpisahan dengan apa yang dia ingini itu. Pada mulanya dia akan merasakan beban yang sangat berat menghimpit jiwanya, tetapi kemudiannya dia mendapat tenaga untuk bertahan. Dia dapat bersabar menghadapi penolakan tersebut. Akhirnya dia berputus asa terhadap apa yang pernah diingininya. Dia menjadi ridha dengan penolakan yang diterimanya. Bila dia ridha dengan keputusan Allah s.w.t, dia akan dibawa kepada keridhaan Allah s.w.t. Semua orang mengharapkan keridhaan Allah s.w.t, tetapi sedikit sekali yang ridha dengan Allah s.w.t. 
      Bagaimana kita bisa mendapatkan keridhaan-Nya jika kita tidak ridha dgn keputusan-Nya? Hamba yang menerima penolakan Allah s.w.t, kemudian dibawa kepada ridha dengan keputusan-Nya, dibayar dengan keridhaan-Nya. Bukankah ini jauh lebih baik dari apa yang dia inginkan dahulu? Jadi, penolakan yang pada mulanya dirasakan pahit sebenarnya merupakan karunia yang sangat besar.

Seseorang yang telah mencapai derajat yang tinggi dalam bidang kerohanian akan selalu ditolak permintaannya, sehingga dia benar-benar memperolehi keteguhan. Penolakan itu adalah sebagai mendidik rohaninya agar terus tegak dalam ubudiyah yang kuat, tidak menjadi terlalu yakin dengan diri sendiri yang boleh menyebabkan kurang pergantungan kepada Allah s.w.t. Penolakan membuatnya mengerti betapa lemahnya dirinya dan betapa dia berhajat kepada Allah s.w.t. Allah s.w.t memperkenalkan bahawa Dia yang terkaya dari sekalian makhluk dan sekalian makhluk tidak lepas dari bergantung kepada-Nya.
      Hamba yang dibuka pintu pemahaman tentang penolakan tidak akan merasa cemas atau curiga menghadapi penolakan tersebut. Sebaliknya dia akan terus berserah diri kepada Allah s.w.t dan membuang tuntutan memilih. Dia tahu bahwa keinginan yang datang ke dalam hatinya adalah ujian Allah s.w.t. Jika Allah s.w.t tidak memenuhi hajatnya, dia tahu Allah s.w.t menambahkan beban ujian tersebut. Allah s.w.t yang mendatangkan ujian maka Dia jua yang mendatangkan kesabaran kepada hamba-Nya untuk menanggung beban ujian tersebut. Allah s.w.t yang menolak permintaan hamba-Nya Dia juga yang menjadikan si hamba itu ridha dengan penolakan tersebut. 
     Penolakan mendatangkan dua nikmat kepada seseorang hamba yaitu nikmat sabar dan ridha. Kedua nikmat ini jauh lebih berharga dan berguna dari apa yang diingini oleh hatinya. Sabar dan ridha menjadi pintu kepada berbagai nikmat yang lain yang besar-besar, sehingga si hamba tidak kecewa langsung lantaran menerima penolakan pada mulanya.

Senin, 23 Mei 2011

Keizinan (kesempatan yg diberikan Allah kepadamu untuk) Meminta, Tanda (itu artinya kamu) Akan Mendapat Karunia

APABILA LIDAHMU DIIZINKAN MENYAMPAIKAN PERMINTAAN, MAKA KETAHUILAH BAHWA ENGKAU AKAN MEMPEROLEHI KARUNIA-NYA.

Orang yang mengembara pada jalan kerohanian menuju Allah s.w.t melalui empat suasana:

1:  Suasana nafsu amarah atau sifat-sifat kebinatangan, yang tidak menghiraukan batasan hukum dan suka memperturutkan hawa nafsunya. Inilah suasana ahli dunia.
2:  Suasana mengurung hawa nafsu dalam kandang hukum. Perkara haram dijauhkan dan banyak dari perkara halal ditinggalkan karena takut terjerumus ke dalam yang haram, juga supaya nafsu kebinatangan tidak kembali segar. Inilah suasana ahli akhirat yang kuat berpegang kepada syariat.
3:  Suasana nafsu kebinatangan sudah dikalahkan dan hati mengalami alam kebatinan atau  hakikat. Pancaran nur iman dan tauhid menerangi hati, membawa hati memperolehi isyarat-isyarat ketuhanan atau ilmu Rabbani. Inilah suasana kewalian.
4:  Suasana kehendak, maksud diri dan kesadaran diri terhapus dan dia masuk ke dalam keridhoan dan karunia Allah s.w.t. Dia tidak lagi menggunakan apa yang mendatangkan manfaat kepadanya dan tidak menghindarkan apa yang mendatangkan mudarat kepadanya. Dia hanya bergantung dan menyerah kepada Allah s.w.t tanpa berkehendakkan apa-apa. Dia tidak lagi meminta pertukaran makam, tidak berhajat kepada apa-apa dan tidak memilih sesuatu untuk dirinya. Dia menerima takdir Allah s.w.t dengan ridha. Inilah suasana badliat atau aulia pilihan Allah s.w.t

Dalam perjalanan menuju makam takdir dan lakuan Allah s.w.t seseorang itu membuang keburukan, kehendak dan kepentingan diri sendiri. Tidak ada maksud dan tujuannya kecuali Allah s.w.t. Dirinya sendiri sudah tidak kelihatan pada mata hatinya. Apabila dia sudah sampai ke makam takdir dan lakuan Allah s.w.t, maka Allah s.w.t mengembalikan dirinya dan keinginannya.
Dia kembali kepada kesedaran kemanusiaan yang mempunyai hajat keperluan kepada Allah s.w.t. Allah s.w.t memerintahkan kepadanya supaya meminta apa-apa yang telah diperuntukkan kepadanya.
Permintaannya itu pasti dimakbulkan Allah s.w.t sebagai ganjaran bagi kesusahan yang telah ditempuhinya, juga sebagai menyatakan kedudukannya di sisi Allah s.w.t dan keridhoan Allah s.w.t kepadanya

 Orang yang sempurna perjalanan kerohaniannya kemudian kembali semula kepada makam insan adalah hamba yang layak bergelar khalifah Allah. Para khalifah Allah bekerja memakmurkan bumi ini dan membimbing manusia ke jalan Allah s.w.t. Sesuai dengan makam insan di mana dia didudukkan, maka dia bekerja mengikut cara manusia umum. Apabila dia berhajat sesuatu dia akan meminta kepada Allah s.w.t. Allah s.w.t akan memakbulkan permintaannya sesuai dengan kedudukannya sebagai khalifah.

 Cara hidup begini telah jelas ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w, di mana baginda s.a.w sangat gemar berdoa kepada Allah s.w.t dan tidak ada doa baginda s.a.w yang disia-siakan Allah s.w.t. Hati yang telah cenderung untuk berdoa, setelah melepaskan maqom tiada doa, menunjukkan bahawa Allah s.w.t telah menyediakan kurniaan untuknya. Permintaan tersebut merupakan keizinan untuk dia mengambil apa yang menjadi bahagiannya.

   

 Orang yang beriman yakin dengan janji Allah s.w.t untuk mengabulkan segala doa. Mereka tidak jemu berdoa sekalipun ia mengambil masa yang lama untuk memperolehi apa yang didoakan itu. Nabi Zakaria a.s adalah salah seorang yang tidak jemu berdoa kepada Allah s.w.t. Keterlambatan masa dikabulkannya doa tidak mengurangi keyakinan beliau a.s.




  

Ia merayu dengan berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya telah lemahlah tulang-tulangku, dan telah putih melepaklah uban kepalaku; dan aku - wahai Tuhanku – tidak pernah merasa hampa dengan doa permohonanku kepadaMu”. ( Ayat 4 : Surah Maryam )

 Allah s.w.t menjadikan doa sebagai satu hubungan seni di antara Dia dengan hamba-Nya. Dia suka mendengar hamba-Nya berdoa kepada-Nya, hingga di dalam syurga pun Dia masih memberi keizinan untuk hamba-Nya berdoa.

 

 Doa ucapan mereka di dalam syurga itu ialah: “
 (Maha Suci Engkau dari segala kekurangan wahai Tuhan)! 

  "Dan ucapan permohonan mereka pada-Nya ialah:
 (Selamat sejahtera)!
 "Dan akhir doa mereka ialah: “ 
(segala puji dipersembahkan kepada Allah yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam)!" ( Ayat 10 : Surah Yunus )




ayat-ayat cinta

dan Tuhan kamu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan doa permohonan kamu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong takabur dari beribadat dan berdoa kepada-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina”. ( Surah Mu’min : 60 )

Minggu, 08 Mei 2011

barublajar1_ttg keikhlasan

ttg keikhlasan.. subhanallah.. ternyata hanya orang orang yang mempunyai keimanan tebal -lah yg bisa mengusahakannya..tentu saja dengan izin Allah...

subhanallah..

Kamis, 05 Mei 2011

Sikap Orang Lalai Dan Orang Berakal







ORANG LALAI (DARI PEGANGAN TAUHID), TATKALA DATANG WAKTU PAGI DIA MEMIKIRKAN APA YANG HARUS DIKERJAKANNYA. ORANG YANG BERAKAL (BERTAUHID) MENERIMA PEKERJAAN YANG DITAKDIRKAN ALLAH S.W.T UNTUKNYA.

Manusia berada dalam salah satu dari dua keadaan. Jika kuat satu keadaan lemahlah keadaan yang satu lagi. Dua keadaan itu adalah pertama perhatian kepada dirinya sendiri dan kedua adalah perhatian kepada Tuhannya. Jika dia asyik kepada dirinya lalailah dia kepada Tuhannya. Jika dia asyik kepada Tuhannya lalailah dia kepada dirinya. Orang yang lemah tauhidnya akan asyik kepada dirinya dan menjadi lalai daripada mengingati Tuhannya. Orang ini mungkin kuat mengerjakan amal ibadat dan berbuat kebaikan kepada sesama makhluk. Tetapi, keasyikan kepada diri sendiri membuatnya melihat amal dan perbuatan sebagai hasil yang keluar dari dirinya kerana dirinya dan kembali kepada dirinya. Jika dia melihat Tuhan maka dilihatnya Tuhan memberinya kebebasan untuk melakukan apa yang dia kehendaki. Dirasakan seolah-olah Tuhan tidak mengganggu pekerjaannya. Dia berpegang kepada kenyataan bahawa Tuhan tidak mengubah nasib sesuatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasibnya. Oleh itu, nasib dirinya terletak dalam tangannya sendiri. Dan, Tuhan memberinya nasib menurut usaha yang disumbangkannya. Bagi menjamin dia mendapat nasib yang baik maka dia membuat perancangan yang rapi dan mengambil tindakan yang berkesan. Dia memulakan harinya dengan menyusun jadual yang wajib ditaatinya untuk hari itu. Untung malang nasibnya bergantung kepada kemampuannya untuk merialisasikan apa yang dirancangkannya.
 Manusia yang berpegang kepada prinsip demikian adalah benar menurut aspek dirinya tetapi adalah orang yang lalai menurut aspek ketuhanan yang menguasai dirinya. Pengagungan kekuatan diri sendiri akan memperkecilkan kekuatan Maharaja yang memerintah sekalian alam maya ini. Prinsip yang demikian menambahkan ego dirinya dan menjauhkannya dari merendahkan diri kepada Tuhannya, walaupun banyak ibadat dan perbuatan baik yang dikerjakannya. Amal yang banyak menyebabkannya menjadi ujub, riak dan sama’ah. Amal yang demikian tatkala dibawa ke neraca hisab di akhirat kelak ia akan berterbangan seperti debu. Ia tidak dapat menolong tuannya kerana orang itu menjadikan dirinya sebagai tapak untuk meletakkan amalnya. Di Padang Mahsyar dirinya sendiri tidak berdaya berdiri di hadapan Hakim Yang Maha Perkasa. Bila dia rebah, rebah jugalah amalnya.
 Sekiranya kita mahu amal dapat berdiri tegak binalah ia di atas tapak tauhid. Pandangan tauhid melihat apa yang dari Allah s.w.t, berdiri dengan Allah s.w.t dan kembali kepada Allah s.w.t. Allah s.w.t yang memiliki dan menguasai sekalian alam serta isi dan kejadian yang berlaku di dalamnya. Tidak bergerak walau sebesar zarah melainkan dengan izin-Nya. Tidak terjadi sesuatu perkara melainkan dengan Kudrat dan Iradat-Nya. Allah s.w.t telah menentukan Qadak sebelum Dia menzahirkan Qadar. Setiap yang berlaku adalah menurut ketentuan-Nya. Orang yang berpegang pada prinsip ini menyambut kedatangan pagi dengan persiapan untuk menerima ketibaan takdir Ilahi. Dia tahu bahawa apa yang Allah s.w.t takdirkan untuknya hari itu pasti sampai kepadanya. Tidak ada sesiapa yang boleh mengubahnya. Bergeraklah dia dengan sepenuh tenaga mendukung takdir yang diamanatkan kepadanya. Jangan menganggap orang yang bepegang kepada prinsip tauhid sebagai orang yang pasif, hanya berpeluk tubuh. Dia tetap aktif dengan berbagai-bagai aktiviti, melebihi orang yang berpegang kepada prinsip yang pertama. Perbezaan antara keduanya adalah daya rasa dan daya nilai. Pekerjaan dan perbuatan adalah serupa. Orang yang pertama merasakan dialah yang melahirkan amal. Dia melihat dirinya yang melakukan amal. Orang kedua melihat dirinya adalah alat, dan Allah s.w.t adalah Pelaku yang menggunakan alat. Dia melihat dirinya dipilih oleh Allah s.w.t bagi menzahirkan sesuatu perbuatan. Oleh sebab perbuatan yang ditakdirkan untuknya itu menjadi amanat Allah s.w.t kepadanya maka dia melakukannya sebaik mungkin menurut kadar kemampuan yang Allah s.w.t kurniakan kepadanya dan dia mengharapkan perbuatan yang lahir dari dirinya itu diredai Allah s.w.t. Orang seperti ini tidak panik menerima kedatangan peristiwa besar secara mendadak kerana dia melihat bahawa peristiwa tersebut adalah takdir Allah s.w.t yang sedang berjalan dan dia berada di tengah jalan laluan takdir itu, lalu dia menerimanya dengan senang hati. Dia yakin bahawa Allah s.w.t yang mendatangkan takdir dalam bentuk peristiwa maka Dia juga yang melahirkan kesan dari peristiwa berkenaan.
 Apabila seseorang itu berfungsi  mengikut urutan takdir dia dapat menerima akibat daripada takdir itu walaupun akibat itu tidak menguntungkannya. Jika akibat yang baik sampai kepadanya dia yakin bahawa Allah s.w.t akan memeliharanya agar tidak terjadi sia-sia kebaikan yang diterimanya dan dia bersyukur. Jika akibat buruk yang sampai kepadanya dia yakin bahawa Allah s.w.t akan menguatkannya dengan kesabaran dan keredaan. Hati yang benar-benar bertauhid tidak dapat diganggu gugat oleh apa-apa pun.

Pelihara Wirid Selama Ada hayat



TIDAK MENGABAIKAN WIRID KECUALI ORANG BODOH. WARID (KURNIAAN ALLAH S.W.T) BERTERUSAN HINGGA KE AKHIRAT DAN WIRID BERAKHIR DENGAN BERAKHIRNYA DUNIA. DAN YANG PALING BAIK DIPERHATIKAN IALAH YANG TIDAK LENYAP. WIRID ITU SEBAGAI TUNTUTAN ALLAH S.W.T KEPADA KAMU SEMENTARA WARID ITU ADALAH HAJAT KAMU KEPADA ALLAH S.W.T. MAKA DI MANAKAH BANDINGAN ANTARA TUNTUTAN ALLAH KEPADA KAMU DENGAN PENGHARAPAN KAMU KEPADA TUHAN KAMU.

Wirid atau aurad adalah amal ibadat yang dilakukan secara tetap terus menerus dari hari ke hari. Ibadat yang wajib menjadi wirid yang dipertanggungjawabkan kepada semua orang Islam. Sembahyang lima waktu sehari semalam adalah wirid yang paling ringkas dan wajib diamalkan. Bila iman seseorang bertambah maka bertambah juga wiridnya. Sembahyang sunat, puasa sunat, membaca al-Quran dan berzikir ditambahkan kepada wirid yang wajib. Apabila seseorang mencapai peringkat iman yang sempurna keseluruhan kehidupannya selama dua puluh empat jam sehari semalam merupakan wirid. Wirid dalam aspek ini adalah Sunah Rasulullah s.a.w. Rasulullah s.a.w telah menunjukkan cara menjalani tempuh dua puluh empat jam itu, bermula dari membuka mata bila jaga dari tidur, baginda s.a.w telah membentuk satu format kehidupan yang merangkumi segala jenis aktiviti. Format itulah yang diamalkan oleh Rasulullah s.a.w dari hari ke hari sehinggalah Rasulullah s.a.w wafat. Diketahui dengan jelas oleh umat baginda s.a.w apakah doa yang baginda s.a.w baca pada sesuatu aktiviti, apakah sembahyang sunat yang baginda s.a.w kerjakan setiap hari, apakah zikir yang baginda s.a.w sering ucapkan dan amalan-amalan lain yang dipelopori oleh baginda s.a.w. Amalan tersebut adalah wirid yang paling sempurna.

Jarang sekali orang dapat mendekati wirid yang paling sempurna. Sebahagian besarnya mengambil wirid yang khusus untuk diamalkan bagi satu jangka masa yang tertentu. Bila mereka merasakan telah mencapai tahap yang boleh dibawa oleh wirid berkenaan, mereka pun tidak berwirid lagi. Biasanya perkara ini terjadi kepada orang yang mengadakan sukatan atau had bagi sesuatu amal itu. Ditentukan puasa sunat selama empat puluh hari berturut-turut dan membaca sesuatu jenis zikir sekian ribu kali. Bila had telah dicapai mereka merasakan kedudukan yang menjadi tujuan juga tercapai. Oleh itu mereka tidak perlu menyambung wirid yang telah diamalkan. Beginilah cara orang jahil beramal. Mereka tidak memahami bahawa wirid bukanlah jaminan untuk mendapatkan kedudukan. Tujuan wirid adalah untuk memperteguhkan ubudiyah (kehambaan). ‘Adam yang telah menerima nikmat penciptaan dan diperakukan sebagai satu kewujudan individu sebagai hamba Tuhan, berkewajipan memperhambakan diri kepada Pencipta, Tuhan sekalian alam. Wirid adalah kenyataan kepada kehambaan tersebut. Selama seseorang itu masih berada di dunia ini dia diwajibkan melakukan kewajipan sebagai hamba. Semakin hampir seseorang dengan Allah s.w.t semakin berat tanggungjawab, amanat dan sopan santun yang harus ditunaikan. Peningkatan makam mestilah sejalan dengan peningkatan ubudiyah, bukan sebaliknya. Apabila seseorang hamba itu meningkat darjatnya, bertambah teguhlah dia berpegang kepada wirid. Orang yang melepaskan wirid adalah orang yang semakin jauh daripada Allah s.w.t namun, disangkanya semakin dekat.

Allah s.w.t tidak putus-putus memberikan kurnia-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Ada kurniaan lahiriah dan ada yang batiniah. Ada sejenis kurniaan batiniah yang dikurniakan kepada segolongan daripada hamba-hamba-Nya. Ia adalah kurniaan yang menghubungkan hamba dengan Tuhan, kurniaan pengalaman hakikat yang menyampaikan kepada makrifatullah. Kurniaan seperti ini dinamakan warid. Nur Ilahi menerangi hati para hamba-Nya dan membakar penjara ‘adam yang memerangkap keaslian rohani. Ikatan dan kongkongan alam benda terhapus maka bebaslah diri yang asli kembali kepada asalnya dan masuk ke Hadrat-Nya, kemudian memperolehi baqa bersama-Nya. Dalam kebaqaan wiridnya ialah Sunah Rasulullah s.a.w. Pergantungan hati kepada Allah s.w.t menjadi tarekatnya. Menyaksikan ketuhanan yang menguasai sekalian yang maujud menjadi suasana hatinya dan suasana begini dinamakan hati berhakikat. Hasil yang diperolehinya dinamakan makrifat. Apabila dia mengalami kematian putuslah syariat darinya, tiada lagi wirid yang perlu diamalkannya. Tetapi, kurniaan Allah s.w.t (warid) tidak putus. Nur Ilahi menerangi alam kuburnya. Nur Ilahi memimpinnya menuju panji Rasulullah s.a.w di Padang Mahsyar. Nur Ilahi menyelamatkannya ketika hisab. Nur Ilahi menetapkan kakinya ketika melintasi Siratalmustaqim. Nur Ilahi menunjukkan jalan ke syurga. Nur Ilahi memasukkannya ke dalam syurga. Nur Ilahi menemaninya di dalam syurga. Badan ahli syurga yang diselimuti oleh Nur Ilahi sangat bercahaya, sehingga jin tidak dapat melihat mereka di akhirat sebagaimana manusia tidak dapat melihat jin di dunia. Kekuatan cahaya Nur Ilahi yang beserta ahli syurga boleh memadamkan api neraka. Kekuatan Nur Ilahi yang tidak terbatas itulah yang memberi kemampuan kepada mereka untuk melihat Wajah Allah s.w.t tanpa hijab. Inilah kemuncak segala warid!

Senin, 02 Mei 2011

Ghurur

Kajian, Tazkiyatun Nafs

Secara etimologi, kata ghurur mempunyai arti tertipu, baik oleh diri sendiri atau orang lain, atau juga oleh kedua-duanya. Adapun makna ini terlihat dari kata gharrahu-yaghurruhu yang berarti khadaahu ‘menipu atau memperdayainya’.

Adapun dalam pendekatan terminologi ghurur berarti sebagai berikut. Kekaguman yang sangat terhadap diri sendiri, sampai pada batasan dimana seseorang meremehkan atau menganggap kecil segala yang dikerjakan atau sesuatu yang muncul dari orang lain daripada apa yang dikerjakan oleh dirinya.

Ghurur adalah kekaguman terhadap diri sendiri yang terlalu besar dan berlebihan. Hal ini sangat berbahaya, sebab orang yang berada dalam kondisi kejiwaan seperti ini akan hidup dan berjalan mengikuti ilusi. Ia akan menghabiskan umurnya dalam khayalan, dan pada waktu yang sama akan terjebak dalam penolakan terhadap nasehat, dan bahkan tetap bertahan dalam tangga kesalahan. Kita bisa bayangkan manakala seseorang hidup dalam dominasi penyakit ghurur, maka yang terjadi adalah ia tidak bisa hidup berdampingan dengan orang lain, dan kehidupannya tidak akan mengalami dinamisasi.



Sebab-sebab Ghurur

Karena ghurur merupakan tampilan daripada ujub yang berlebihan, maka faktor-faktor yang menjadikan seseorang jatuh kepada ghurur pun tidak jauh dari faktor munculnya ujub itu sendiri. Diantara sebab terjadinya ghurur adalah sebagai berikut.:

1. Meremehkan muhasabah (Intropeksi diri)

2. Berlebihan dalam beragama (al-Ghuluw)

3. Memperdalam ilmu, terutama dalam masalah-masalah yang aneh dan langka, tetapi melalaikan aplikasi dari ilmu tersebut.

4. Mengingat kepada ketaatannya saja dan melalaikan kemaksiatan yang ia lakukan.

5. Larut dalam kecintaan terhadap dunia.

6. Berlebihan dalam merahasiakan amal-amal yang dikerjakan.

7. Langkanya orang- orang yang dijadikan referensi dalam keteladan.



Dampak Negatif Ghurur

Sebagaimana penyakit hati yang lain, sesungguhnya penyakit ini tidak hanya berdampak pada pelakunya saja, tetapi juga pada umat. Berikut ini rincian dari kedua dampak tersebut.

Pertama, Dampak negatif pada pelakunya.

1. Jatuh pada sikapcinta jidal atau berdebat, tetapi tidak mau dikalahkan orang lain.

2. Jatuh pada sifat sombong.

3. Meremehkan pendapat orang lain.

Kedua, Dampak negatif pada umat.

1. Menjadikan umat mudah hancur. Hal ini dikarenakan individu-individunya terperdaya oleh kekaguman kepada dirinya sendiri, dan melalaikan kekuatan musuh.

2. Hilangnya ketahanan dan komitmen beragama pada umat.



Terapi Ghurur

Ada beberapa terapi yang bisa kita lakukan untuk membentengi diri kita dari penyakit ini. Diantaranya adalah sebagai berikut.

1.Mengetahui secara baik dampak ghurur.

2.Menjaga keseimbangan dalam segala permasalahan.

3.Senantiasa memperdalam ajaran Islam.

4.Mempelajari biografi genenasi terbaik dari umat ini.

5.Menjauhkan diri dari orang-orang yang terperdaya.

6.Senantisa melakukan instropeksi diri.

7.Komitmen terhadap amal kebaikan

8.Senantiasa memohon perlindungan Allah SWT.

By masjid-alamanah

Hukum Berdo’a Sesudah Sholat

Mungkin sebagian saudara kami masih rancu mengenai perkara do’a dan mengangkat tangan sesudah shalat. Memang ada hadits yang menjelaskan dianjurkannya beberapa do’a pada dubur shalat (akhir shalat) sebagaimana yang disebutkan dalam hadits semacam ini :

أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Aku wasiatkan padamu wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan untuk berdo’a setiap dubur shalat (akhir shalat) : Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik. [Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].” (HR. Abu Daud no. 1522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Namun apakah yang dimaksud dengan dubur shalat (akhir shalat)? Apakah sebelum salam atau sesudah salam?

Untuk memahami hal ini, alangkah baiknya kita memperhatikan penjelasan Syaikh Ibnu Baz berikut (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 11/194-196) yang kami sarikan berikut ini. Serta ada sedikit penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dan ulama lainnya yang kami sertakan.

Dubur shalat kadang bermakna sebelum salam dan kadang pula bermakna sesudah salam.

Terdapat beberapa hadits yang menunjukkan hal ini. Mayoritasnya menunjukkan bahwa yang dimaksud dubur shalat adalah akhir shalat sebelum salam jika hal ini berkaitan dengan do’a. Sebagaimana dapat dilihat dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkannya tasyahud padanya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنْ الدُّعَاءِ بَعْدُ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ يَدْعُو بِهِ

“Kemudian terserah dia memilih do’a yang dia sukai untuk berdo’a dengannya.” (HR. Abu Daud no. 825).

Dalam lafazh lain,

ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ

“Kemudian terserah dia memilih setelah itu (setelah tasyahud) do’a yang dia kehendaki (dia sukai).” (HR. Muslim no. 402, An Nasa’i no. 1298, Abu Daud no. 968, Ad Darimi no. 1340)

Di antara contoh do’a yang dibaca sebelum salam adalah yang terdapat dalam hadits Mu’adz bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat padanya,

لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Janganlah engkau tinggalkan untuk berdo’a setiap dubur shalat (akhir shalat)[1] : Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik. [Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].” (HR. An Nasa’i no. 1286, Abu Daud no. 1301. Sanad hadits ini shohih)

Contoh lain dari do’a yang dibaca sebelum salam adalah do’a yang diajarkan oleh Sa’ad bin Abi Waqosh radhiyallahu ‘anhu.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung pada-Mu dari hati yang lemah, aku berlindung dari dikembalikan ke umur yang jelek, aku berlindung kepada-Mu dari musibah dunia dan aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur.”[2]

Adapun letak bacaan dzikir adalah setelah shalat, setelah salam berdasarkan hadits-hadits shohih yang ada.

Contoh yang dimaksud adalah ketika selesai salam kita membaca :

Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah. Allahumma antas salam wa minkas salam tabarokta yaa dzal jalali wal ikrom.

Dzikir ini dibaca oleh imam, makmum ataupun orang yang shalat sendirian (munfarid). Kemudian setelah itu imam berbalik ke arah makmum sambil menghadapkan wajahnya ke arah mereka. Setelah itu imam, makmum, atau orang yang shalat sendirian membaca dzikir :

Laa ilaha illalah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli sya’in qodir, laa hawla quwwata illa billah. Laa ilaha illallah wa laa na’budu illa iyyah, lahun ni’mah wa lahul fadhlu wa lahuts tsana’ul hasan. Laa ilaha illallah mukhlishina lahud din wa law karihal kaafirun. Allahumma laa mani’a lima a’thoita wa laa mu’thiya lima mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.

Inilah yang dianjurkan bagi muslim dan muslimah untuk membaca dzikir-dzikir ini setelah shalat lima waktu. Lalu setelah itu dia membaca tasbih (subhanallah), membaca tahmid (alhamdulillah), dan membaca takbir (Allahu Akbar). Lalu dia menggenapkan bacaan dzikir ini menjadi seratus dengan membaca : Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli sya’in qodir.

Semua dzikir ini terdapat dalam hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dianjurkan setelah membaca dzikir-dzikir ini agar membaca ayat kursi sekali secara lirih (sir). Lalu setelah itu membaca qul huwallahu ahad dan al maw’idzatain (Al Falaq dan An Naas) masing-masing sekali setelah selesai shalat; kecuali untuk shalat maghrib dan shubuh, ketiga surat ini dibaca masing-masing sebanyak tiga kali.

Dianjurkan pula bagi setiap muslim dan muslimah setelah selesai shalat maghrib dan shubuh untuk membaca dzikir :

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumit wa huwa ‘ala kulli sya’in qodir, dibaca sebanyak sepuluh kali sebagai tambahan dari bacaan-bacaan dzikir tadi, sebelum membaca ayat kursi, sebelum membaca tiga surat tadi. Amalan seperti ini terdapat dalam hadits yang shohih. Wallahu waliyyut taufiq.

Kesimpulan :

Yang dimaksud dengan dubur shalat adalah :

[1] Setelah tasyahud, sebelum salam. Ini adalah letak kita dianjurkan untuk berdo’a.

[2] Setelah shalat, sesudah salam. Ini adalah letak kita dianjurkan untuk berdzikir.

Kalau Ingin Berdo’a, Sebaiknya Dilakukan Sebelum Salam

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah (Liqo’at Al Bab Al Maftuh, kaset no. 82) berkata :

Oleh karena itu dapat kita katakan bahwa apabila engkau ingin berdo’a kepada Allah, maka berdo’alah kepada-Nya sebelum salam. Hal ini karena dua alasan :

Alasan pertama : Inilah yang diperintahkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membicarakan tentang tasyahud, “Jika selesai (dari tasyahud), maka terserah dia untuk berdo’a dengan do’a yang dia suka.”

Alasan kedua : Jika engkau berada dalam shalat, maka berarti engkau sedang bermunajat kepada Rabbmu. Jika engkau telah selesai mengucapkan salam, berakhir pula munajatmu tersebut. Lalu manakah yang lebih afdhol (lebih utama), apakah meminta pada Allah ketika bermunajat kepada-Nya ataukah setelah engkau berpaling (selesai) dari shalat? Jawabannya, tentu yang pertama yaitu ketika engkau sedang bermunajat kepada Rabbmu.

Adapun ucapan dzikir setelah menunaikan shalat (setelah salam) yaitu ucapan astagfirullah sebanyak 3 kali. Ini memang do’a, namun ini adalah do’a yang berkaitan dengan shalat. Ucapan istighfar seseorang sebanyak tiga kali setelah shalat bertujuan untuk menambal kekurangan yang ada dalam shalat. Maka pada hakikatnya, ucapan dzikir ini adalah pengulangan dari shalat.

Hukum Mengangkat Tangan untuk Berdo’a Sesudah Shalat Fardhu

Pembahasan berikut adalah mengenai hukum mengangkat tangan untuk berdo’a sesudah shalat fardhu. Berdasarkan penjelasan yang pernah kami angkat, kita telah mendapat pencerahan bahwa memang mengangkat tangan ketika berdo’a adalah salah satu sebab terkabulnya do’a. Namun, apakah ini berlaku dalam setiap kondisi? Sebagaimana penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin bahwa hal ini tidak berlaku pada setiap kondisi. Ada beberapa contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa beliau tidak mengangkat tangan ketika berdo’a. Agar lebih jelas, mari kita perhatikan penjelasan Syaikh Ibnu Baz mengenai hukum mengangkat tangan ketika berdo’a sesudah shalat.

Beliau –rahimahullah- dalam Majmu’ Fatawanya (11/181) mengatakan :

Tidak disyari’atkan untuk mengangkat kedua tangan (ketika berdo’a) pada kondisi yang kita tidak temukan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan pada saat itu. Contohnya adalah berdo’a ketika selesai shalat lima waktu, ketika duduk di antara dua sujud (membaca do’a robbighfirli, pen) dan ketika berdo’a sebelum salam, juga ketika khutbah jum’at atau shalat ‘ied. Dalam kondisi seperti ini hendaknya kita tidak mengangkat tangan (ketika berdo’a) karena memang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan demikian padahal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suri tauladan kita dalam hal ini. Namun ketika meminta hujan pada saat khutbah jum’at atau khutbah ‘ied, maka disyariatkan untuk mengangkat tangan sebagaimana dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka ingatlah kaedah yang disampaikan oleh beliau –rahimahullah- dalam Majmu’ Fatawanya (11/181) berikut :

“Kondisi yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat tangan, maka tidak boleh bagi kita untuk mengangkat tangan. Karena perbuatan Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam termasuk sunnah, begitu pula apa yang beliau tinggalkan juga termasuk sunnah.”

Bagaimana Jika Tetap Ingin Berdo’a Sesudah Shalat?

Ini dibolehkan setelah berdzikir, namun tidak dengan mengangkat tangan. Syaikh Ibnu Baz –rahimahullah- dalam Majmu’ Fatawanya (11/178) mengatakan :

“Begitu pula berdo’a sesudah shalat lima waktu setelah selesai berdzikir, maka tidak terlarang untuk berdo’a ketika itu karena terdapat hadits yang menunjukkan hal ini. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak perlu mengangkat tangan ketika itu. Alasannya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan demikian. Wajib bagi setiap muslim senantiasa untuk berpedoman pada Al Kitab dan As Sunnah dalam setiap keadaan dan berhati-hati dalam menyelisihi keduanya. Wallahu waliyyut taufik.”

Bahkan Berdo’a Sesudah Shalat dan Dzikir adalah Perkara yang Dianjurkan

Dianjurkan seseorang berdo’a sesudah shalat dan setelah dzikir disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagaimana yang dinukil oleh Syaikh Ali Basam dalam Tawdihul Ahkam (1/776-777). Syaikhul Islam –rahimahullah- mengatakan :

“Dianjurkan bagi setiap hamba sesudah shalat dan setelah membaca dzikir semacam istigfar, tahlil, tasbih, tahmid dan takbir, lalu dia bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dia boleh berdo’a sesuai yang dia inginkan. Karena berdo’a sesudah melakukan aktivitas ibadah semacam ini adalah waktu yang tepat untuk terkabulnya do’a, apalagi sesudah berdzikir kepada-Nya dan menyanjug-Nya, juga setelah bershalawat kepada Nabi-Nya. Ini adalah sebab yang sangat ampuh untuk tercapainya manfaat dan tertolaknya mudhorot (bahaya). ”

Namun yang perlu diperhatikan sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawanya (11/168) bahwa do’a sesudah shalat boleh dilakukan, namun tanpa mengangkat tangan dan tidak bareng-bareng (jama’i). Beliau mengatakan bahwa hal ini tidak mengapa.

Mengangkat Tangan Untuk Berdo’a Sesudah Shalat Sunnah

Syaikh Ibnu Baz –rahimahullah- dalam Majmu’ Fatawanya (11/181) mengatakan :

Adapun shalat sunnah, maka aku tidak mengetahui adanya larangan mengangkat tangan ketika berdo’a setelah selesai shalat. Hal ini berdasarkan keumuman dalil. Namun lebih baik berdo’a sesudah selesai shalat sunnah tidak dirutinkan. Alasannya, karena tidak terdapat dalil yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal ini. Seandainya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya, maka hal tersebut akan dinukil kepada kita karena kita ketahui bahwa para sahabat –radhiyallahu ‘anhum jami’an- rajin untuk menukil setiap perkataan atau perbuatan beliau baik ketika bepergian atau tidak, atau kondisi lainnya.

Adapun hadits yang masyhur (sudah tersohor di tengah-tengah umat) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di dalam shalat, seharusnya engkau merendahkan diri dan khusyu’. Lalu hendaknya engkau mengangkat kedua tanganmu (sesudah shalat), lalu katakanlah : Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!” Hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah), sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Ibnu Rajab dan ulama lainnya. Wallahu waliyyut taufiq.

Demikian pembahasan kami tentang hukum bedo’a sesudah shalat. Masalah ini adalah masalah ijtihadiyah, yang masih terdapat perselisihan ulama di dalamnya. Namun demikianlah pendapat yang kami pilih dan lebih menenangkan hati kami. Kami pun masih menghormati pendapat lainnya dalam masalah ini.

Semoga Allah senantiasa memberikan pada kita ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib dan amalan yang diterima.
[1] Yang dimaksudkan di sini adalah pada akhir shalat sebelum salam.

[2] HR. An Nasa’i no. 5479. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih.

doa

JANGANLAH KARENA KELAMBATAN MASA PEMBERIAN TUHAN KEPADA KAMU, PADAHAL KAMU TELAH BERSUNGGUH-SUNGGUH BERDOA, MEMBUAT KAMU BERPUTUS ASA, SEBAB ALLAH MENJAMIN UNTUK MENERIMA SEMUA DOA, MENURUT APA YANG DIPILIH-NYA UNTUK KAMU, TIDAK MENURUT KEHENDAK KAMU, DAN PADA WAKTU YANG DITENTUKAN-NYA, TIDAK PADA WAKTU YANG KAMU TENTUKAN.