Rabu, 25 Mei 2011

Hikmah Pada Pemberian Dan Penolakan

 


  

ADAKALANYA KAMU MENERIMA PEMBERIAN YANG PADA HAKIKATNYA ADALAH PENOLAKAN DAN ADA KALANYA KAMU DITOLAK TETAPI PADA HAKIKATNYA KAMU DIBERI.
 
JIKA DIBUKA KEPADA KAMU PINTU KEFAHAMAN TENTANG PENOLAKAN, NISCAYA BERUBAH PENOLAKAN MENJADI PEMBERIAN.
        Sesuatu yang begitu kuat menghalangi perjalanan kerohanian seseorang murid adalah kehendak diri sendiri. dia berkehendak bhwa sesuatu yang menurutnya akan membawa kebaikan kepada dirinya. Kehendak atau hajat keperluannya itu mungkin berkaitan tentang dunia, akhirat atau hubungan dengan Allah s.w.t. 
       Jika hajatnya tercapai dia merasakan yang dia menerima kurniaan Allah s.w.t. Jika hajatnya tidak diperkenankan dia akan merasakan dia menerima penolakan Allah s.w.t dan dijauhkan. 
       Orang yang berada pada peringkat ini selalu mengaitkan terkabulnya permintaan atau doa dengan kemuliaan di sisi Allah s.w.t. Jika Allah s.w.t mengabulkan permintaannya dia merasakan itu adalah tanda dia dekat dengan-Nya. Jika permintaannya ditolak dia merasakan itu tandanya dia dijauhkan. Anggapan begini sebenarnya tidak tepat. Tidak semua penerimaan doa menunjukkan pendekatan dan tidak semua penolakan menunjukkan dijauhkan
        Bagi orang yang masih dalam perjalanan dia tidak seharusnya membesarkan hajat keperluannya. Dia perlu menghancurkan nafsu dan keinginan dirinya supaya dia dapat masuk ke dalam suasana berserah diri kepada Allah s.w.t. Kehendak dan hajat menghalangnya dari berserah diri kepada Allah s.w.t. Pemberian yang sesuai dengan hajat dan permintaannya menambahkan kekuatan halangan tersebut. Keadaan ini menambahkan lagi hijab antaranya dengan Allah s.w.t. Dalam segi ini, pemberian yang diterimanya walaupun mempunyai manfaat tetapi sebenarnya merupakan kerugian kerana tertutup jalan menuju Allah s.w.t. Jadi, pemberian itu merupakan penolakan yang tidak disadarinya.
  
      Orang yang hajatnya ditolak (belum terkabul) akan mengalami keadaan yang berbeda daripada orang yang hajatnya dikabulkan. Orang yang mempunyai keinginan terhadap sesuatu mempunyai hubungan hati dengan apa yang diingini itu. Hatinya cenderung atau kasih kepadanya. Jika keinginannya sangat kuat dan tidak dapat dikawalnya, dia akan sanggup berkorban apa saja untuk mendapatkan apa yang diingininya itu. Jika dia bermohon kepada Tuhan maka dia akan meminta dengan bersungguh-sungguh. Harapannya bulat tertuju kepada Allah s.w.t. Sekiranya dia mampu tentu dipaksanya Allah s.w.t agar memberi apa yang dia hajati itu. 
       Apa akan terjadi sekiranya Allah s.w.t menolak permintaannya dan membiarkan harapannya itu musnah? Dia akan menghadapi perpisahan dengan apa yang dia ingini itu. Pada mulanya dia akan merasakan beban yang sangat berat menghimpit jiwanya, tetapi kemudiannya dia mendapat tenaga untuk bertahan. Dia dapat bersabar menghadapi penolakan tersebut. Akhirnya dia berputus asa terhadap apa yang pernah diingininya. Dia menjadi ridha dengan penolakan yang diterimanya. Bila dia ridha dengan keputusan Allah s.w.t, dia akan dibawa kepada keridhaan Allah s.w.t. Semua orang mengharapkan keridhaan Allah s.w.t, tetapi sedikit sekali yang ridha dengan Allah s.w.t. 
      Bagaimana kita bisa mendapatkan keridhaan-Nya jika kita tidak ridha dgn keputusan-Nya? Hamba yang menerima penolakan Allah s.w.t, kemudian dibawa kepada ridha dengan keputusan-Nya, dibayar dengan keridhaan-Nya. Bukankah ini jauh lebih baik dari apa yang dia inginkan dahulu? Jadi, penolakan yang pada mulanya dirasakan pahit sebenarnya merupakan karunia yang sangat besar.

Seseorang yang telah mencapai derajat yang tinggi dalam bidang kerohanian akan selalu ditolak permintaannya, sehingga dia benar-benar memperolehi keteguhan. Penolakan itu adalah sebagai mendidik rohaninya agar terus tegak dalam ubudiyah yang kuat, tidak menjadi terlalu yakin dengan diri sendiri yang boleh menyebabkan kurang pergantungan kepada Allah s.w.t. Penolakan membuatnya mengerti betapa lemahnya dirinya dan betapa dia berhajat kepada Allah s.w.t. Allah s.w.t memperkenalkan bahawa Dia yang terkaya dari sekalian makhluk dan sekalian makhluk tidak lepas dari bergantung kepada-Nya.
      Hamba yang dibuka pintu pemahaman tentang penolakan tidak akan merasa cemas atau curiga menghadapi penolakan tersebut. Sebaliknya dia akan terus berserah diri kepada Allah s.w.t dan membuang tuntutan memilih. Dia tahu bahwa keinginan yang datang ke dalam hatinya adalah ujian Allah s.w.t. Jika Allah s.w.t tidak memenuhi hajatnya, dia tahu Allah s.w.t menambahkan beban ujian tersebut. Allah s.w.t yang mendatangkan ujian maka Dia jua yang mendatangkan kesabaran kepada hamba-Nya untuk menanggung beban ujian tersebut. Allah s.w.t yang menolak permintaan hamba-Nya Dia juga yang menjadikan si hamba itu ridha dengan penolakan tersebut. 
     Penolakan mendatangkan dua nikmat kepada seseorang hamba yaitu nikmat sabar dan ridha. Kedua nikmat ini jauh lebih berharga dan berguna dari apa yang diingini oleh hatinya. Sabar dan ridha menjadi pintu kepada berbagai nikmat yang lain yang besar-besar, sehingga si hamba tidak kecewa langsung lantaran menerima penolakan pada mulanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar